Selamat karena telah menyelesaikan pelajaran pertama! Sekarang, mari kita lanjut ke tingkat berikutnya.
Dunia cryptocurrency (kripto) penuh dengan berbagai kemungkinan. Beberapa koin harganya bisa meroket hingga 100.000% dalam sebulan, sementara yang lain bisa anjlok menjadi nol dalam waktu yang sama cepatnya. Dengan begitu banyak hal yang terjadi, pertanyaan besarnya adalah: apa yang sebenarnya harus kita lakukan dengan mata uang kripto ini untuk memanfaatkan momentum tersebut?
Opsi #1: Crypto Exchange (Bursa Kripto)

Opsi pertama adalah membeli kripto di exchange. Platform ini dapat diandalkan dan menyediakan berbagai pilihan trading. Baik Anda lebih suka trading dengan atau tanpa leverage, Anda akan menemukan banyak pilihan kripto, sehingga membuka berbagai peluang trading yang beragam. Selain itu, exchange biasanya menyediakan liquidity (likuiditas) yang sangat baik.
Liquidity mengukur seberapa mudah suatu aset keuangan dapat dicairkan menjadi uang tunai tanpa mengubah harga pasarnya.
Sebagian besar exchange memungkinkan Anda untuk memasang order Stop Loss dan Take Profit, trading menggunakan leverage, serta menarik kripto Anda ke wallet eksternal. Seringkali, exchange juga dapat berfungsi sebagai wallet, sehingga Anda bisa menyimpan dana di satu tempat.
Namun, exchange juga memiliki kelemahan. Semua server berada di lokasi tertentu, dan kripto disimpan baik di hot wallet maupun cold wallet, yang semuanya berada di bawah kendali sekelompok kecil individu. Sayangnya, sejarah telah mencatat beberapa peretasan terhadap exchange besar dengan kerugian mencapai ratusan juta dolar. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah peretasan Mt. Gox pada tahun 2014, yang mengakibatkan pencurian fantastis senilai $460 juta.
Peretasan besar terbaru terjadi pada 21 Februari 2025, ketika Bybit kehilangan kendali atas cold wallet mereka yang berisi Ethereum dalam jumlah signifikan. FBI telah mengaitkan serangan ini dengan kelompok yang diyakini bekerja untuk Korea Utara, yang semakin meningkatkan kekhawatiran terkait keamanan di industri kripto.
Untuk mengatasi risiko ini, beberapa exchange mulai menyediakan mekanisme asuransi untuk melindungi aset pengguna jika terjadi peretasan. Platform seperti Bybit, MEXC, OKX, Coinbase, dan Kraken, antara lain, memberikan berbagai bentuk asuransi atau kebijakan perlindungan pengguna untuk memastikan keamanan dana jika terjadi insiden keamanan.
Salah satu exchange kripto terbesar, FTX, runtuh pada tahun 2022 setelah terungkap adanya lubang sebesar $5 miliar di neraca keuangannya. Centralized Exchange (CEX) ini dulunya adalah salah satu yang paling "keren" di pasar: surat kabar memujinya, investor menanamkan dana untuk pengembangannya, dll. Belakangan, terungkap bahwa FTX menggunakan dana klien untuk menutupi posisi trading mereka yang rugi (losing positions). Akibatnya, exchange tersebut bangkrut, menghancurkan pasar kripto, dan membuat investor hampir tidak memiliki peluang untuk memulihkan dana mereka.
Opsi #2: Hot Wallet dan Cold Wallet

Saat ini, sudah menjadi praktik umum bagi exchange untuk menyebar dana pengguna ke berbagai sistem yang terpisah dan menyimpannya di cold wallet, yang jauh lebih sulit diretas dibandingkan dengan hot wallet.
Istilah hot (panas) dan cold (dingin) pada wallet merujuk pada seberapa dekat dompet tersebut dengan koneksi internet. Semakin terhubung dengan internet, semakin "panas" statusnya. Kripto pada dasarnya adalah barisan kode. Untuk menyimpan kode ini, Anda memerlukan alat khusus.

Hot Wallet Hot wallet selalu terhubung dengan public key dan private key, yaitu komponen penting untuk melakukan transaksi dan memberikan keamanan. Namun, karena terhubung secara online dengan internet, wallet ini lebih rentan terhadap peretasan dan pencurian dibandingkan metode penyimpanan cold wallet. Sebagai gambarannya, bayangkan kripto sebagai uang kertas yang disimpan di suatu tempat di internet, dan setiap peserta di jaringan tersebut menyimpan catatan yang memverifikasi siapa pemilik uang kertas tersebut.
Cold Wallet Cold wallet beroperasi dengan cara yang berbeda. Bentuknya bisa berupa perangkat fisik seperti flash drive USB, CD, atau bahkan kertas yang disimpan di lokasi yang sangat rahasia. Wallet ini disimpan secara offline, sehingga sangat aman. Sekalipun seseorang menemukan flash drive yang berisi kripto Anda, mereka tidak akan bisa mengaksesnya tanpa kata sandi (seed phrase), yang biasanya terdiri dari 12 kata spesifik. Cold wallet memberikan perlindungan yang sangat kuat untuk aset kripto Anda. Akan tetapi, opsi ini mungkin bukan pilihan terbaik jika Anda ingin sering bertransaksi dan mengakses kripto Anda. Bayangkan sebuah brankas di bank: setiap kali Anda ingin mengambil uang tunai, Anda harus datang, memasukkan kode, dan membuka pintu besi yang berat.
Opsi #3: Decentralized Exchange (DEX)

Perbandingan cara kerja Centralized Exchange (CEX) di sebelah kiri dan Decentralized Exchange (DEX) di sebelah kanan.
Cara lain untuk trading kripto adalah melalui Decentralized Exchange (DEX). Mari kita pelajari apa itu DEX.
DEX tidak memiliki server tunggal tempat setiap transaksi dieksekusi. Sebaliknya, DEX bekerja menggunakan Smart Contract yang memungkinkan pengguna untuk menukar kripto dengan aturan yang sudah ditentukan secara jelas oleh sistem.
Smart contract adalah serangkaian algoritma yang dieksekusi secara otomatis setelah kondisi tertentu terpenuhi. Setiap syarat perjanjian antara pembeli dan penjual ditulis langsung ke dalam kode kontrak tersebut.
Kode inilah yang mengontrol eksekusi, sementara transaksinya tetap dapat dilacak dan bersifat ireversibel (tidak dapat dibatalkan). Dan tentu saja, sistem ini terdesentralisasi.
Mari kita lihat kelebihan dan kekurangan DEX.
Kelebihan DEX
-
DEX tidak menyimpan dana pengguna; mereka memproses transaksi langsung melalui hot wallet dan cold wallet Anda.
-
DEX memprioritaskan kerahasiaan dan memitigasi risiko yang berkaitan dengan akses pihak ketiga terhadap aset Anda.
-
DEX beroperasi tanpa akun pengguna terpusat, sehingga akun Anda tidak bisa dibekukan.
-
Sebuah DEX tidak bisa ditutup secara sepihak karena sistemnya terdistribusi di seluruh jaringan.
Kekurangan DEX
-
Peningkatan risiko penipuan (scam/fraud) karena tidak adanya kontrol ketat terhadap token yang didaftarkan untuk trading. Dengan minimnya pemeriksaan keamanan terpusat, pengguna wajib melakukan riset mendalam (DYOR) untuk memastikan keamanan.
-
Sebagian besar DEX beroperasi di atas smart contract, sehingga Anda hanya bisa melakukan trading token yang berjalan di jaringan tersebut. Bitcoin asli tidak bisa ditransaksikan di sana karena tidak mendukung smart contract DEX. Namun, Anda bisa trading Wrapped Bitcoin, yaitu versi smart contract dari BTC.
-
Anda tidak bisa menukarkan mata uang fiat biasa (seperti USD atau EUR).
-
Biaya transaksi (fee) bisa lebih tinggi untuk beberapa kripto (terutama di jaringan Ethereum).
Opsi #4: Broker
Broker CFD memungkinkan Anda untuk melakukan trading kontrak atas harga kripto, bukan membeli koin fisiknya. Untuk lebih jelasnya, mari kita bandingkan trading kontrak ini dengan trading kripto di exchange.

-
Pertama, dengan broker CFD, keamanan aset kripto Anda lebih terjamin karena Anda tidak benar-benar menyimpan koin di platform, berbeda dengan centralized exchange atau DEX yang rawan penipuan. Hal ini secara signifikan mengurangi risiko pencurian koin atau peretasan, sehingga memastikan keamanan dana Anda.
-
Kedua, Anda tidak perlu menanggung fee transaksi yang tinggi seperti di DEX karena proses trading berjalan melalui sistem internal broker, bukan pihak lain.
-
Ketiga, prosesnya lebih simpel dibandingkan centralized exchange dan DEX. Anda tidak perlu repot memindahkan kripto antar wallet karena semuanya sudah terpusat di satu tempat.
-
Broker CFD biasanya juga menawarkan leverage yang lebih tinggi saat trading kripto dibandingkan dengan crypto exchange.
Ringkasan Pelajaran
-
Exchange menawarkan antarmuka yang ramah pengguna dan menyediakan akses ke aset kripto yang sebenarnya. Namun, mereka rentan terhadap peretasan (hacking), terutama ketika kripto tersebut disimpan di hot wallet.
-
Di sisi lain, DEX memprioritaskan keamanan pengguna dari intervensi pihak ketiga, namun cenderung memiliki fee yang lebih tinggi dan masalah liquidity, khususnya untuk trading pair eksotis. Selain itu, kripto berbasis Proof-of-Work (seperti Bitcoin) tidak dapat diperdagangkan secara langsung di DEX.
-
Broker CFD menawarkan keunggulan berupa liquidity yang melimpah, ketersediaan berbagai trading pair eksotis, dan sistem trading kontrak alih-alih menyimpan koin aslinya. Hal ini membuat trading di broker lebih aman dibandingkan centralized exchange dalam hal risiko retas kripto, dan lebih hemat biaya dibandingkan DEX.
Pada akhirnya, pilihan platform trading ada di tangan Anda. Namun, ada baiknya mempertimbangkan berbagai keuntungan dari trading CFD, di samping kelemahan-kelemahan signifikan yang ada pada DEX maupun centralized exchange.
Tetap semangat dan teruslah belajar tentang kripto! Pada pelajaran ketiga nanti, kita akan menjelajahi berbagai jenis mata uang kripto mulai dari Bitcoin hingga stablecoin, serta mana yang paling bagus untuk di-trading-kan.