Di pelajaran-pelajaran sebelumnya dalam kursus ini, kita telah mengetahui apa itu Japanese candlestick dan mempelajari pola-pola candlestick yang paling populer. Di pelajaran keempat ini, kita akan mengupas dua strategi yang membutuhkan kejelian layaknya detektif dalam mengenali dan melakukan trading dengan pola candlestick!
Strategi Shooting Star
Untuk strategi pertama, mari kita ingat kembali pola Shooting Star. Di bawah ini, kami memberikan contoh pola "Shooting Star" pada chart H4 dari GE.

Karakteristik pola Shooting Star klasik:
-
Memiliki upper shadow (bayangan atas) yang panjang dan lower shadow (bayangan bawah) yang pendek;
-
Memiliki real body (badan candle) berukuran kecil yang seharusnya berada di dekat level low (harga terendah) sesi tersebut;
-
Muncul selama fase uptrend setelah sebuah bullish candlestick. Sinyal ini terkonfirmasi ketika bearish candlestick besar berikutnya ditutup (close) di bawah harga penutupan Shooting Star;
-
Warnanya bisa hijau maupun merah.
Jika Anda masih kesulitan menemukan pola "Shooting Star", Anda bisa membaca kembali pelajaran kedua di kursus ini.
Sekarang, mari kita bahas langkah-langkah eksekusi trading untuk strategi ini:
-
Tunggu hingga pola Shooting Star muncul. Ingat, pergerakan harga sebelumnya harus berada dalam kondisi uptrend;
-
Setelah Anda melihat formasi Shooting Star, tunggu hingga candlestick berikutnya bergerak turun melewati level low dari Shooting Star tersebut. Anda bisa menggunakan order Sell Stop untuk menempatkan entry Anda tepat di level low Shooting Star;
-
Stop Loss Anda harus ditempatkan di level high (harga tertinggi) dari Shooting Star tersebut;
-
Tempatkan Take Profit di level Support signifikan berikutnya.
Kami menyertakan contoh penerapan strategi ini di bawah. Pada chart H4 General Electric, terbentuk pola Shooting Star. Kita memasang order Sell Stop di level low pola Shooting Star pada 18.50, Stop Loss diletakkan pada level high dari candlestick tersebut, dan Take Profit dipasang pada level Support signifikan sebelumnya di 17.10. Dengan skenario ini, kita berhasil mengamankan 140 poin dalam satu transaksi.

Bagaimana cara menghindari situasi saat pola Shooting Star ternyata palsu (fake signal)?
Menunggu konfirmasi adalah hal yang sangat krusial. Candlestick berikutnya setelah "Shooting Star" harus berupa candle bearish. Selain itu, jangan pernah lupakan Stop Loss! Fitur ini akan memproteksi Anda dari kerugian saat pergerakan harga tidak sesuai dengan analisa awal.
Strategi selanjutnya dikenal sebagai pola "Third Candle" (Candle Ketiga). Pola ini mungkin sekilas mirip dengan formasi "Three Black Crows" atau "Three White Soldiers". Perbedaan utamanya adalah pola "Third Candle" memiliki lebih sedikit batasan terkait harga pembukaan (opening price) dari masing-masing candlestick.
Strategi Third Candle
Ada dua jenis untuk pola ini: bullish dan bearish. Kita akan mulai membahas pola yang bearish.
Candlestick pertama dari pola ini adalah bullish (disebut sebagai candle "nol"). Candlestick berikutnya harus bearish. Candle bearish kedua ini berfungsi untuk mengonfirmasi momentum pergerakan harga ke bawah (downward momentum). Lalu, candle ketiga digunakan sebagai sinyal untuk membuka posisi short (Sell).

Sebaliknya, begini cara kita mengidentifikasi pola yang bullish. Candlestick bullish pertama harus muncul setelah candle bearish (sebagai candle "nol"). Candle tersebut harus membentuk level low yang lebih rendah (lower low). Candlestick bullish kedua digunakan sebagai konfirmasi adanya pembalikan arah harga ke atas (reversal to the upside). Harga pembukaan dari candlestick ketigalah yang menjadi level konfirmasi untuk membuka posisi long (Buy).

Setelah berhasil mengidentifikasi pola "Third Candle", mari kita pelajari langkah-langkah utama dari penerapan strateginya.
Untuk posisi Long (Buy):
-
Tunggu hingga pola bullish "Third Candle" terbentuk dengan sempurna. Jika real body dari candle pertama dan kedua berukuran sangat kecil – Anda tidak disarankan untuk masuk ke pasar (enter the market) karena hal itu menunjukkan kubu buyer (bulls) mulai kehilangan kekuatan;
-
Kedua, pasang indikator osilator Stochastic pada chart. Garis indikatornya harus mengarah naik;
-
Jika semua kondisi tersebut terpenuhi, buka posisi long segera setelah candlestick ketiga dibuka (open);
-
Pasang Stop Loss di bawah level low dari candlestick pertama;
-
Tentukan level Take Profit di titik Resistance signifikan berikutnya.
Mari kita lihat contoh di bawah ini! Pada chart harian (Daily) NZDUSD, pola "Third Candle" terbentuk. Setelah candle ketiga muncul, kita melakukan konfirmasi momentum pergerakan naik melalui indikator Stochastic yang keluar dari zona oversold (jenuh jual) dan mulai bergerak lebih tinggi. Kita memasang order Buy Stop di 0.6743. Stop Loss diletakkan di bawah level low dari candlestick "nol" pada 0.6645, dan Take Profit dipasang di 0.6817, dekat dengan area Resistance signifikan sebelumnya. Hasilnya, kita mendapatkan profit sebesar 740 poin.

Untuk posisi Short (Sell): Skenario untuk membuka posisi short pada dasarnya hampir sama dengan langkah-langkah di atas.
-
Tunggu hingga pola bearish "Third Candle" terbentuk sepenuhnya. Sama seperti pada skenario posisi long, real body pada candle pertama dan kedua tidak boleh berukuran terlalu kecil;
-
Indikator Stochastic harus bergerak turun;
-
Buka posisi short pada saat harga pembukaan (opening price) dari candlestick ketiga;
-
Letakkan Stop Loss di atas level high dari candlestick pertama;
-
Pasang order Take Profit pada level Support signifikan berikutnya.
Di bawah ini kami menyertakan contoh penerapannya untuk eksekusi sell.
Setelah pola "Third Candle" terbentuk dengan valid di chart harian NZDUSD, kita menunggu indikator Stochastic bergerak turun. Kita kemudian menempatkan order Sell Stop di harga pembukaan candlestick ketiga pada level 0.6921. Stop Loss diposisikan di atas level high dari candlestick pertama di 0.6983. Untuk target Take Profit, kita meletakkannya di level Support 0.6833. Sebagai hasilnya, trade ini sukses membukukan profit 880 poin.

Apakah penting menempatkan Take Profit di dekat area Support dan Resistance signifikan dalam strategi ini?
Tentu, karena level Support dan Resistance mewakili zona-zona yang berpotensi memicu pembalikan arah harga (reversal zones). Harga bisa saja langsung berbalik arah saat menyentuh target tersebut. Kami merekomendasikan untuk meletakkan level Take Profit sedikit di bawah Resistance terdekat (untuk trade Buy) dan sedikit di atas Support terdekat (untuk trade Sell). Selain itu, sangat disarankan untuk melakukan proteksi profit (trailing stop) dan menutup posisi secara manual saat Anda mulai melihat tanda-tanda reversal (misalnya: terjadinya persilangan/crossover pada Stochastic di area overbought/oversold, atau terbentuknya pola candlestick reversal).
Kini Anda telah menguasai dua strategi trading paling populer yang memanfaatkan pola Japanese candlestick. Tentu saja, masih banyak variasi strategi lainnya! Jangan lupa untuk terus melatih strategi-strategi ini secara rutin menggunakan akun Demo.
Ringkasan Materi
-
Strategi Shooting Star sangat populer di kalangan trader, mengingat pola ini cukup sering muncul di dalam chart;
-
Pola Shooting Star umumnya muncul di fase akhir sebuah uptrend. Diperlukan konfirmasi berupa terbentuknya bearish candlestick pada sesi selanjutnya;
-
Perbedaan utama antara pola "Three Black Crows" dan pola "Third Candle" adalah pola "Third Candle" memiliki aturan yang lebih fleksibel terkait harga pembukaan (opening price) dari masing-masing candlestick;
-
Strategi "Third Candle" mutlak membutuhkan indikator osilator Stochastic untuk mengonfirmasi momentum.