Tidak semua mata uang kripto (cryptocurrency) diciptakan sama. Mereka bekerja dengan cara yang berbeda, memiliki batas pasokan koin yang berbeda, dan melayani tujuan yang berbeda pula. Oleh karena itu, pergerakan harga dan trennya sering kali tidak sejalan. Menjelaskan setiap aset kripto secara detail tentu akan memakan waktu, jadi mari kita fokus pada aset-aset yang paling dikenal saja.
Memprediksi pergerakan harga Bitcoin mungkin terlihat menantang, tetapi kita bisa mencoba memahaminya dengan menggunakan sumber data spesifik dan pemikiran yang logis.
Pertama, mari kita fokus pada cara mengumpulkan dan menggunakan data. Kita akan mulai dengan data dari exchange (bursa kripto). Seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, jumlah Bitcoin yang tersedia di exchange secara langsung memengaruhi harganya; namun, mengumpulkan informasi ini secara real-time bisa jadi sulit. Itulah mengapa sangat disarankan untuk menggunakan channel Telegram yang menyediakan pembaruan langsung terkait pasokan Bitcoin. Sebagai contoh, CryptoQuant Alerts menunjukkan inflow (arus masuk) dan outflow (arus keluar) Bitcoin dari exchange terbesar. Semakin besar inflow, semakin besar pula kemungkinan harga BTC akan anjlok.
Penggunaan Analisis On-chain dalam Day Trading
Analisis on-chain adalah cara untuk memetakan apa yang sedang terjadi di dalam jaringan Bitcoin (atau aset kripto lainnya). Metode ini melibatkan pelacakan pergerakan Bitcoin, seperti wallet (dompet) mana yang mengirim, mana yang menerima, berapa jumlah yang dikirim, dan apakah itu transaksi beli atau jual.
Karena blockchain bersifat transparan, kita bahkan bisa melihat transaksi bernilai miliaran dolar yang dilakukan oleh perusahaan atau investor besar. Memantau pergerakan ini bisa membantu trader memahami apa yang kemungkinan akan terjadi selanjutnya di pasar.
Pada 3 Maret 2025, bot mendeteksi inflow Bitcoin dalam skala masif, dengan lebih dari 11.000 Bitcoin disetorkan ke dalam exchange. Jangan hanya percaya pada kata-kata kami, berikut adalah tangkapan layarnya:


Dan seperti yang bisa kita lihat, pada sesi trading tersebut, harga Bitcoin turun drastis sebesar 13,5%.

Inflow dan outflow dalam jumlah yang tidak biasa (lebih dari 5000 Bitcoin) sering kali menyebabkan harga naik atau turun secara signifikan. Namun, Anda harus berhati-hati: terkadang inflow langsung diikuti oleh outflow, begitu pula sebaliknya. Kami tidak menyarankan Anda untuk masuk atau entry posisi dalam kondisi seperti ini, karena risiko terjadinya reversal (pembalikan arah) terlalu tinggi.
Sebaliknya, cobalah mencari beberapa alasan konfirmasi yang muncul secara bersamaan sebelum melakukan trade. Dengan cara ini, Anda akan lebih yakin dengan pergerakan harga yang akan datang.
Channel Telegram lain yang padat informasi dan sangat membantu adalah Whale Alert. Channel ini cukup populer, meskipun mungkin agak membingungkan untuk dibaca pada awalnya karena banyaknya detail yang kadang tidak diperlukan. Channel ini menampilkan informasi berikut:
-
Bitcoin yang sedang dikirim dari wallet tidak dikenal (unknown wallets) ke exchange kripto.
-
Inflow dan outflow dari stablecoin (kripto dengan nilai yang stabil seperti USDT/USDC).
-
Transfer berbagai jenis aset kripto lainnya.
-
Penciptaan (minting) dan penghancuran (burning) token kripto baru.
Agar tidak bingung, Anda harus bisa memisahkan data yang berguna dari informasi yang kurang penting. Pertama, perhatikan ikon peringatan (alert) pada setiap postingan. Semakin banyak ikon peringatan yang Anda lihat, semakin besar skala peristiwanya.

Berikut adalah empat postingan. Postingan pertama memiliki empat ikon peringatan, yang kedua memiliki satu, dan yang ketiga memiliki sepuluh peringatan yang menandakan tingkat kepentingan tertinggi. Mari kita perhatikan lebih dekat postingan terakhir, karena ini tampak krusial.

Seperti yang Anda lihat, $200 juta ditransfer ke Binance (salah satu exchange kripto terbesar). Lebih dari 5500 Bitcoin ditarik (withdraw) dari Coinbase. Anda tentu sudah tahu bahwa pergerakan on-chain sebesar ini akan memengaruhi harga secara signifikan. Apa yang terjadi pada chart di hari itu?

Terjadi lonjakan sebesar $2000 (5%) dalam 14 jam berikutnya, bahkan tanpa sinyal dari indikator teknikal maupun price pattern (pola harga)!

Penerbitan (issuance) dan pembakaran (burning) USDT (Tether) juga merupakan indikator penting di pasar kripto. Peningkatan jumlah Tether yang diterbitkan sering kali memicu kenaikan nilai Bitcoin karena bertambahnya likuiditas dan permintaan (demand). Sebaliknya, proses burning Tether dapat menyebabkan penurunan nilai Bitcoin.
Sebagai contoh, pada 22/05/2025, 26/05/2025, dan 05/05/2025, Tether menerbitkan tambahan 1 miliar USDT setiap kalinya, yang mendorong kenaikan nilai Bitcoin.

Jika Anda menggunakan sumber-sumber data ini, ingatlah beberapa hal berikut:
-
Stablecoin mencerminkan kondisi pasar melalui penerbitannya. Menerbitkan koin baru sering kali menjadi sinyal bahwa aktivitas pasar sedang bertumbuh dan volume trading meningkat. Sebaliknya, melakukan burning pada stablecoin menunjukkan adanya kelebihan pasokan di pasar dan penurunan minat, yang mencerminkan aktivitas trading yang melambat serta likuiditas yang lebih rendah.
-
Inflow Bitcoin berarti ada pemain besar (whale) yang memutuskan untuk menjual koin mereka. Oleh karena itu, harga kemungkinan besar akan turun. Di sisi lain, outflow Bitcoin berarti ada pihak yang telah membeli BTC dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman (wallet pribadi). Dengan lebih sedikitnya Bitcoin yang tersedia di exchange, akan lebih mudah bagi harga untuk meroket.
-
Abaikan sinyal yang tidak berguna, seperti transaksi bernilai kecil atau pada aset kripto yang tidak Anda trade.
Berkat teknologi blockchain, pasar aset kripto menjadi sepenuhnya transparan. Manfaatkanlah hal ini untuk keuntungan Anda.
Trading Kripto Menggunakan Indikator Teknikal
Untuk meningkatkan strategi trading Anda, pertimbangkan untuk menggunakan indikator teknikal yang andal. Salah satu yang terbaik adalah osilator RSI (Relative Strength Index). Dengan RSI, kita dapat mendeteksi adanya divergence (perbedaan arah) antara osilator dan harga. Dengan begitu, kita bisa menangkap peluang reversal atau perubahan tren.
Secara umum, RSI divergence berarti indikator RSI bergerak ke arah yang berlawanan dibandingkan dengan pergerakan harga. Oleh karena itu, RSI memungkinkan Anda untuk mengantisipasi perubahan arah harga.
-
Bullish divergence terjadi ketika harga membentuk lower lows (titik lembah yang lebih rendah), tetapi RSI justru membentuk higher lows (titik lembah yang lebih tinggi).
-
Bearish divergence terjadi ketika harga membentuk higher highs (titik puncak yang lebih tinggi), tetapi RSI membentuk lower highs (titik puncak yang lebih rendah).
Berikut adalah contoh dari bullish divergence:

Dan berikut ini adalah contoh dari bearish divergence:

Seperti yang Anda lihat, pergerakan harga kripto sangat merespons sinyal RSI divergence, jadi jangan ragu untuk memanfaatkannya!
Trading Kripto Menggunakan Garis Support dan Resistance
Mata uang kripto mungkin terlihat rumit karena ini masih merupakan pasar yang tergolong baru dan rentan terhadap volatilitas tinggi. Para pemain besar, seperti investor institusional dan whale, dapat memanipulasi harga untuk keuntungan mereka dengan menciptakan false breakout (penembusan palsu). False breakout ini terjadi ketika harga menembus level kunci sesaat, memicu retail trader untuk masuk posisi, namun tak lama kemudian harga langsung berbalik arah. Strategi ini memungkinkan para pemain besar mengumpulkan likuiditas dari trader ritel sebelum akhirnya mendorong harga ke arah yang berlawanan.

Untuk menghindari jebakan manipulasi semacam ini, sangat penting untuk menunggu terjadinya retest yang solid pada trendline daripada langsung melakukan entry sesaat setelah terjadi breakout. Sebuah retest memberikan konfirmasi bahwa breakout tersebut memang valid, dan titik entry yang lebih aman ini akan meningkatkan peluang Anda untuk mendapatkan trade yang profit.
Kesabaran adalah kunci untuk menghindari sinyal palsu dan mengambil keputusan trading yang lebih cerdas.
Harga cryptocurrency bergerak dalam siklus: mereka akan mengalami fase konsolidasi (sideways), melakukan breakout menembus level support atau resistance, dan kemudian berbalik arah atau melanjutkan trennya. Oleh karena itu, perhatikan area konsolidasi seperti yang ditunjukkan di bawah ini, karena biasanya fase ini akan diikuti oleh pergerakan yang signifikan.

Ringkasan Materi
-
Outflow Bitcoin dari bursa (exchange) mendorong harga bergerak lebih tinggi. Sebaliknya, inflow Bitcoin menekan harga bergerak lebih rendah.
-
Inflow stablecoin mendorong harga naik, dan berlaku pula sebaliknya.
-
RSI divergence akan membantu Anda mendeteksi potensi reversal (pembalikan tren).
-
Kripto bergerak dalam siklus. Selalu ada pergerakan besar yang terjadi setelah fase konsolidasi. Identifikasi level support dan resistance untuk melakukan trade pada saat harga breakout.